Pentingnya Blogger Memahami dan Menggunakan Elemen Jurnalistik
Mengapa Di Katakan Penting ?
Sebelumnya mari kita membahas apa saja Elemen Jurnalistik yang perlu kita pahami. Di lansir dari https://portal-ilmu.com/ mengenai 9 Elemen Jurnalistik, dikatakan bahwa yang harus diperhatikan adalah :
1. Menyampaikan Kebenaran (Fakta)
Mungkin untuk sebagian orang sangat sulit untuk menyampaikan fakta karena tidak semua kalangan bisa menerima fakta yang di sampaikan oleh seorang jurnalis. Sementara jurnalis harus dituntut untuk bersikap balance (seimbang). Pada kenyataannya, upaya wartawan untuk “fairness” dan “balance” itu tetap saja subyektif dan dipengaruhi politik media massa.
2. Memegang Kepercayaan Publik
Jurnalis harus memegang kepercayaan terhadap 3 pihak yang menjadi stakeholder : pembaca, pengiklan, dan publik (masyarakat). Jurnalis harus bisa membagi-bagi kepentingan masing-masing dari ketiga pihak tersebut. Elemen ini menjawab pertanyaan, “Untuk siapa wartawan bekerja?” Demi menjawabnya, Kovach dan Rosentiel menyarankan pemilik/perusahaan harus menomorsatukan warga, mempekerjakan manajer bisnis yang juga menomorsatukan warga, menetapkan dan mengomunikasikan standar yang jelas, menaruh akhir berita di tangan wartawan, serta mengomunikasikan standar yang jelas kepada publik.
3. Disiplin Verifikasi
Jurnalistik berbeda dengan fiksi. Maka diperlukan verifikasi untuk membedakan gosip, desas-desus, kabar burung atau bahkan cerita mitos.
Elemen ini mengingatkan prinsip dasar jurnalistik yang mengandalkan fakta sebagai sumber berita. Wartawan tidak pernah menambahi sesuatu yang tidak ada, serta tak pernah menipu audience. Kovach dan Rosentiel lalu menyarankan insan pers untuk menerapkan prinsip intelektual dari laporan ilmiah:
- berlakulah setransparan mungkin tentang metode dan motivasi Anda,
- andalkan reportase Anda sendiri,
- bersikaplah rendah hati.
4. Independen
Tuntutan untuk bersifat objektif sering kali membuat wartawan pemula bingung. Tetapi menjadi netral bukanlah prinsip dasar jurnalisme. Impartialitas juga bukan yang dimaksud objektifitas. Prinsipnya, wartawan haruslah bersikap independen dari hal-hal yang mereka liput.
Jurnalis senantiasa dituntut memantau kekuasaan dan menyambung lidah yang tertindas. Prinsip itu kini kerap melenceng karena peran sebagai anjing penjaga (watchdog) yang berlebihan karena lebih ditujukan untuk menyajikan sensasi. Pemantau atas kekuasaan dinilai efektif dengan reportase investigatif.
5. Memantau Kekuasaan & Menyambung Lidah Rakyat
Memantau kekuasaan bukan berarti melukai orang yang berkehidupan nyaman. Memantau kekuasaan harus dilakukan dengan kerangka ikut menegakkan demokrasi. Jalan keluar menurut Kovach dan Rosentiel adalah, “Jika wartawan/media memiliki hubungan yang bisa dipersepsikan sebagai konflik kepentingan, mereka berkewajiban melakukan ‘full-disclosure’ tentang hubungan itu.” Tujuannya adalah agar pembaca waspada dan menyadari bahwa tulisan/liputan itu tidak terlalu independen.
6. Menjadi Forum Publik
Selain harus menyajikan fakta, wartawan harus berpegang pada standar kejujuran yang sama atau kesetiaan kepada kepentingan publik. Media harus mampu menjadi ajang saling kritik dan menemukan kompromi. Forum yang disediakan untuk itu harus untuk komunitas seutuhnya, bukan hanya untuk kelompok yang berpengaruh atau yang secara demografi menarik.
7. Memikat dan Relevan
Sensasional, Lucu, dan berkaitan dengan popularitas. Tapi Sebaliknya suatu laporan yang relevan dan perlu, sering kali dianggap kering dan membosankan. Perlu pengalaman dan hati nurani untuk memilih sudut pandang yang menarik dan relevan. Jurnalisme adalah mendongeng dengan sebuah tujuan, yaitu menyediakan informasi yang dibutuhkan orang untuk memahami dunia.
Tantangan pertama adalah menemukan informasi yang dibutuhkan orang untuk menjalani hidup mereka, dan yang kedua adalah membuatnya bermakna, relevan, dan enak disimak. Penulisan jurnalistik yang bagus selalu merupakan hasil dari reportase mendalam yang solid, dengan imbuhan detail dan konteks yang mengikat tulisan.
8. Proporsional dan Komprehensif
Surat-surat kabar di Indonesia sering kali melanggar hal ini. Beberapa surat kabar masih banyak yang membuat berita tidak proporsional. Judul-judulnya sensasional dan selalu menekankan pada aspek emosional. Jurnalisme adalah kartografer (pembuat peta) modern.
Ia menghasilkan peta bagi warga untuk mengambil keputusan tentang kehidupan mereka sendiri. Itulah manfaat dan alasan ekonomi kehadiran jurnalisme. Seperti halnya peta, nilai jurnalisme bergantung kepada kelengkapan dan proporsionalitas.
9. Berhati Nurani
Tiap orang tentunya punya hati nurani. Begitu juga harusnya wartawan. Wartawan yang berpengalaman biasanya punya visi dalam menjalankan tugasnya. Setiap wartawan dari redaksi hingga dewan direksi harus punya rasa etika dan tanggung jawab personal . Sebuah panduan moral demi menyajikan berita yang akurat, adil, imbang, berfokus pada warga, berpikiran independen, dan berani.
Dari 9 elemen jurnalistik di atas tentu kita bisa melihat dan menyusun langkah-langkah yang harus kita perhatikan untuk penulisan yang kita buat berdasarkan fakta. Dasar yang kuat untuk penyusunan juga perlu kita terapkan agar pembaca tidak hanya sekedar menerima berita mentah tetapi esensi berita di dalamnya dapat tersampaikan.
Comments
Post a Comment